Selasa, 06 November 2012

Siapkah koperasi menghadapi era globalisasi ?

            Menurut saya koperasi indonesia dalam menghadapi era globalisasi sebagian sudah ada yang siap dan sebagian juga masih dalam tahap persiapan untuk menghadapinya.
          Sekarang, koperasi menghadapi lingkungan yang sudah mengalami perubahan besar, sisa-sisa reruntuhan akibat krisis ekonomi masih tampak dimana-mana. Mestinya, perubahan besar yang ditandai dengan menguatnya praktik demokrasi ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk memulai lagi upaya pengembangan koperasi dengan strategi dan cara yang benar. Pada abad ini sudah saatnya kperasi dihadirkan sebagai sarana yang efektif untuk menghadapi era globalisasi membebaskan masyarakat dari kesengsaraan ekonomi akibat krisis, membangun kesejahteraan mereka dalam jangka panjang sekaligus melaksanakan amanat UUD 1945, yakni memberdayakan masyarakat.
          Dalam pemikiran yang lebih jauh, kehadiran koperasi juga sangat diperlukan untuk “membentengi” masyarakat dari dampak buruk pasar bebas yang sudah mulai berlangsung. Seperti sudah banyak terbukti dibanyak negara (bukan cuma Eropa, tetapi juga Amerika dan beberapa negara di Asia seperi Jepang), koperasi bisa melingdungi kepentingan petani dari kerasnya persaingan komoditas pertanian dipasar dunia.
          Sukses sebuah koperasi, harus dilihat dari keberhasilannya dalam mempromosikan anggotanya. Dalam hal ini, promosi anggota diartikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan ekonomi anggota dan meningkatkan kesejahteraan anggota sebagai pemilik sekaligus pelanggan koperasi dengan tujuan menghadapi era globalisasi. Dalam hal ini, bentuk kegiatan koperasi bisa bermacam-macam, tergantung kepentingan ekonomi dan potensi yang dimiliki anggotanya.
          Koperasi pada era ini akan mampu menampilkan keunggulannya dalam dunia persaingan global, seperti layaknya koperasi di negara kapitalis lainnya seperti Amerika, Eropa, Jepang. Jika koperasi mampu mengembangkan bangun usaha sesuai dengan jatidirinya diharapkan koperasi dapat mewujudkan cita-cita Bung Hatta bahwa koperasi akan menjadi sokoguru perekonomian nasional. Indonesia sebagai negara agraris yang mayoritas mata pencaharian penduduknya mengelola usaha tani, sudah selayaknya banun usaha yang mewadahi kegiatannya didominasi bangun usaha koperasi.
          Upaya  “menghidupkan”  kembali koperasi ditengah-tengah serbuan raksasa kapitalis itu sangatlah berat, apalagi di negara semacam Eropa Timur dan Tengah yang telah mengambil jalan radikal membubarkan koperasi-koperasi. Meskipun koperasi memiliki sejarah pertumbuhan dan perkembangan yang cukup panjang di negara negara tersebut, upaya demikian tetap saja tidak mudah dilaksanakan. Pada saat ini, posisi dan keberadaan koperasi setahap demi setahap tampaknya sudah membaik, hal ini tentunya tidak terlepas dari peran serta komitmen  masyarakat koperasi di seluruh dunia.
          Peranan pemerintah itu mengalami perubahan pula di belahan dunia lainnya, terutama di Afrika dan Amerika Latin, fluktuasi ekonomi yang dramatis telah memaksa pemerintah negara-negara diwilayah itu merestrukturisasi ekonomi nasionalnya, dengan resiko dan konsekuensi merusak tatanan sosial, sedikitnya dalam jangka waktu yang pendek. Pemerintah dipaksa untuk mengurangi peranannya dalam bidang ekonomi, koperasi terkena imbasnya sehingga tidak lagi memperoleh kemudahan atau fasilitas yang biasa diperoleh sebelumnya.
          Dalam negara yang kondisinya seperti itu, banyak koperasi yang sudah menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu, tetapi banyak pula yang belum sehingga masa depannya terkatung-katung. Tantangan utama yang dihadapi koperasi-koperasi di Selatan adalah bagaimana mempertahankan dan membangun organisasinya dengan visi dan misi yang jelas yang dapat dibedakan secara langsung dengan visi dan misi lembaga ekonomi lainnya.
          Demikian pula dengan yang terjadi di negara-negara industri maju, seperti di Eropa Barat dan beberapa negara di Asia Timur. Koperasi harus terlibat dalam kompetisi melawan perusahaan-perusahaan besar, yang tidak jarang, lebih berpengalaman dalam menciptakan syarat-syarat untuk menjadi pemenang dalam persaingan tersebut, antara lain syarat efisiemsi dan akumulasi kapital.
          Sebenarnya fenomena ini terjadi pula di negara negara berkembang, termasuk indonesia. Perbedaannya, koperasi dinegara maju lebih siap bersaing untuk menghadapi era globalisasi yang ditunjukkan (salah satunya) kemampuan mereka untuk mengefesienkan aktivitas usahannya, sedangkan di negara-negara berkembang, menciptakan efesiensi dalam koperasi hampir sama artinya dengan mengabaikan nilai-nilai dasar dan jatidiri koperasi.
          Jadi saran saya agar koperasi siap menghadapi era globalisasi yaitu dengan membangun koperasi sesuai dengan jatidirinya, mudah-mudahan pada masa depan diharapkan koperasi telah siap menghadapi era globalisasi dan menunjukkan citra yang positif ditengah masyarakat sebagai wadah mandiri bagi kegiatan ekonomi kerakyatan yang kokoh sehingga benar-benar dapat mewujudkan amanat yang ditetapkan UUD 1945.
REFERENSI :
·        Muslimin Nasution
KOPERASI
MENJAWAB KONDISI EKONOMI NASIONAL, Cet. 1
Jakarta : Penerbit PIP & LPEK, Agustus 2008
ISBN : 978-979-18268-0-8

Nama : Danang Prawibowo
Kelas  : 2EB08
NPM   : 21211707

0 komentar:

Poskan Komentar